Saturday, October 19, 2013

Matematika Akhlak sebagai Pendekatan Alternatif dalam Pembentukan Karakter Siswa

MATEMATIKA AKHLAK SEBAGAI PENDEKATAN ALTERNATIF DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA M. Arfan Mu’ammar Abstrak Intelektualitas tidak menjamin accountabilitas atau hilangnya sikap-sikap mental korupsi, kolusi, nepotisme dan sebagainya. Di sisi lain, moralitas yang kaku bisa mengesampingkan intelektualitas. Pelajaran Matematika sejatinya secara substansi dapat membentuk karakter siswa, Matematika berfungsi sebagai bahasa ilmu dengan lingkup universal, sebab dengan menggunakan Matematika dapat dilakukan abstraksi dari kenyataan-kenyataan yang sangat rumit menjadi suatu model sehingga dapat dicapai ketajaman dalam memberikan deskripsi, mempermudah untuk mengadakan klasifikasi, kalkulasi dan dengan komputasi Matematika akan meningkatkan kemampuan untuk mengadakan evaluasi dan prediksi. Artikel ini mencoba menggunakan Matematika Akhlak sebagai pendekatan dalam pembentukan karakter Siswa. A. Pendahuluan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan bahwa dasar dari pengembangan kurikulum baru (Kurikulum 2013) adalah untuk membangun pendidikan karakter pada anak-anak bangsa. Kurikulum 2013 lebih menekankan pada pengembangkan karakter disamping ketrampilan dan kemampuan kognitif karena Indonesia saat ini sedang mengalami krisis karakter yang diperlihatkan dari banyaknya korupsi, tindak kejahatan terjadi dimana-mana, dan mudahnya anak-anak bangsa menerima kebudayaan dari negara lain tanpa menyaringnya apakah kebudayaan itu baik atau buruk untuk diri mereka. Karenanya upaya pembentukan karakter anak adalah sebuah keniscayaan, sehingga berbagai upaya dilakukan dalam mewujudkan upaya tersebut, diantaranya mulai diwajibkannya pramuka sebagai media pembentuk karakter. Menurut pembina kwarcab Pramuka Kota Malang Oetodjo Sardjito, Pramuka merupakan salah satu wahana pembentukan karakter siswa karena dalam Pramuka siswa dilatih akan kepemimpinan, kerja sama, solidaritas, mandiri, dan keberanian. Disamping itu, setiap guru berkewajiban membuat strategi-strategi dan pendekatan-pendekatan dalam rangka pembentukan karakter siswa, dalam hal ini penulis ingin memberikan sebuah tawaran pendekatan alternatif dalam pembentukan karakter siswa melalui Matematika Akhlak. Istilah Matematika Akhlak pertama kali dipopulerkan oleh Bekti Hermawan, alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) 1991, Hermawan menemukan sebuah cara mengajarkan Akhlak Qur’an melalui pendekatan Matematika, atau lebih tepatnya mengajarkan Akhlak yang abstrak dengan bahasa bilangan yang disebut dengan Matematika Akhlak. M. Nuh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengatakan, banyak orang meragukan peran matematika dalam pembentukan akhlak seorang siswa. Padahal ternyata efeknya cukup besar. M. Nuh juga mejelaskan bahwa “Banyak yang bertanya-tanya pelajaran di sekolah apa bisa membentuk akhlak. Yang paling banyak ditanya, matematika. Itu sebenarnya bisa berpengaruh pada sikap,” kata Nuh dalam diskusi Terbatas bertema “Penguatan Akhlak Bangsa”, diselenggarakan oleh Dewan Pertimbangan Presiden Bidang Hubungan Antar Agama, Ruang Nias lantai 19 Hotel Borobudur, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Kamis 14 Maret 2013. Dalam terminologi klasik, matematika diartikan sebagai ilmu tentang bilangan, bentuk dan terapannya. Dalam kaitannya dengan berbagai disiplin ilmu pengetahuan, Matematika berfungsi sebagai bahasa ilmu dengan lingkup universal, sebab dengan menggunakan Matematika dapat dilakukan abstraksi dari kenyataan-kenyataan yang sangat rumit menjadi suatu model sehingga dapat dicapai ketajaman dalam memberikan deskripsi, mempermudah untuk mengadakan klasifikasi, kalkulasi dan dengan komputasi Matematika akan meningkatkan kemampuan untuk mengadakan evaluasi dan prediksi. Disisi lain Matematika sangat memegang peranan penting dalam berbagai cabang Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknologi. Pandangan yang lain diungkapkan oleh Keith Devlin bahwa “Matematika sebagai ilmu tentang pola, merupakan sebuah cara memandang dunia, baik dunia fisik, biologis dan sosiologis dimana kita tinggal dan juga cara memandang dunia batin dari pemikiran kita. Sedangkan Akhlak dapat diartikan sebagai tingkah laku yang lahir dari manusia dengan sengaja, tidak dibuat-buat dan telah menjadi kebiasaan, selain itu Akhlak dapat diubah!, Akhlak dapat merupakan hasil dari pendidikan. Oleh karena itu, Akhlak dapat diubah melalui pendidikan. Dengan penggabungan pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa jika Akhlak dapat diubah melalui pendidikan, Akhlak seharusnya bisa dijelaskan secara matematis, karena Matematika dan Akhlak adalah suatu bahasa dan sudah terpola dialam semesta ini. Selain itu, aspek kajian ilmu Matematika ini dalam dunia Islam memperkenalkan tertib aturan (sesuatu yang terpola), keseimbangan (sesuatu yang terukur sebagaimana persamaan-persamaan matematis), dan keserasian (dapat digunakan untuk menjelaskan ilmu pengetahuan lain secara umum). B. Tinjauan tentang Matematika Akhlak Pendidikan matematika tidak dapat terlepas dari matematika itu sendiri. Oleh karena itu, untuk mengkaji kontribusi pembelajaran matematika dalam pengembangan karakter peserta didik yang berakhlak mulia akan lebih baik jika terlebih dahulu mengungkap karakteristik dari matematika yaitu obyeknya yang abstrak, simbol yang kosong dari arti, kesepakatan dan pemikiran deduktif aksiomatik, dan anti kontradiksi. Tujuan pendidikan matematika harus memperhatikan (1) tujuan yang bersifat formal, yaitu penataan nalar dan pembentukan kepribadian anak, dan (2) tujuan yang bersifat material yaitu penerapan matematika serta ketrampilan matematika. Beberapa nilai moral dalam pembelajaran matematika yang berkaitan dengan karakteristik dari matematika yang dapat diintegrasikan dengan Al Qur’an di antaranya: kesepakatan, ketaatasasan/konsistensi, deduksi, semesta. 1. Definisi Matematika Secara bahasa (lughowi), kata matematika berasal dari bahasa yunani yaitu “mathema” atau “mathematikos” yang berarti hal-hal yang dipelajari. Bagi orang yunani matematika tidak hanya meliputi pengetahuan mengenai angka dan ruang, tetapi juga mengenai musik dan ilmu falak (astronomi). Nasoetion menyatakan bahwa Matematika berasal dari bahasa Yunani “mathein” atau “mathenein” yang artinya mempelajari. Orang belanda menyebutnya dengan wiskunde, yang artinya ilmu pasti. Sedangkan orang Arab, menyebut matematika dengan ilmu al-hisab yang artinya ilmu berhitung Dinegara kita indonesia, matematika disebut dengan ilmu pasti dan ilmu hitung . Sebagian orang indonesia memberikan plesetan dengan menyebut matematika dengan sebutan “Matimatian”. Hal ini dikarenakan sebagian dari mereka merasa bahwa matematika sulit untuk dipelajari dan sangat memeras otak dan hal itu juga yang membuat sebagian besar anak didik indonesia merasa atau menganggap matematika sebagai momok (suatu hal yang menakutkan) bagi mereka. 2. Definisi Akhlak Istilah akhlak (khuluk atau character) di ambil dari al-Qur’an, sedangkan contoh dari akhlak sendiri adalah sebagaimana yang di contohkan oleh Nabi Muhammad. and you (Muhammad) are on an exalted standard of character . Selain dari itu, istilah khuluk dalam khazanah Islam klasik di definisikan sebagai sebuah jiwa yang menentukan tindakan manusia the soul which determines human actions . Adapun Al- Farobi salah seorang cendikiawan Islam klasik mendifinisikan khuluk sebagai sebuah jiwa, dimana seseorang mengerjakan kebaikan dan keadilan adalah menggambarkan sifat kebaikannya. Dan jika ia mengerjakan tindakan jahat dan buruk, itu menggambarkan sifat keburukannya. The states of the soul by which a man does good deeds and fair actions are the virtues, and those by which he does wicked deeds and ugly actions, are the vices . Sedangkan Yahya ibnu ‘Adi (d.974) memberikan definisi yang mendekatinya, yaitu sebagai sebuah jiwa yang mendorong pada tindakan tanpa pikiran sebelumnya a state of the soul by which man performs his actions without thought or deliberation . Definisi Yahya ini, di ikuti oleh beberpa cendikiawan muslim lainnya seperti Ibnu Miskawaih (d.1030). Demikian juga dengan cendikiawan muslim lainnya yang menulis tentang etika dalam islam, seperti al-Ghazali (d. 1111) , Fakhr al-Din al-Razi (d. 1209) , al-Tusi (d. 1274) , al¬Dawwani (d. 1502) , dan yang lainnya. 3. Definisi Matematika Akhlak Matematika Akhlak adalah suatu pelajaran moral etika atau akhlak mulia yang diajarkan melalui angka dan bilangan. Angka dalam bahasa Inggris disebut digit atau numeral, angka hanya berupa 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9. Sedangkan bilangan dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan sebagai banyaknya benda, satuan dari jumlah atau banyaknya sesuatu, lingkungan, perhitungan untuk mengetahui untung dagang. Bilangan juga dapat didefinisikan sebagai suatu ide atau gagasan yang bersifat abstrak dan menyatakan banyaknya anggota dari suatu kelompok atau himpunan. C. Urgensi Character Building dalam Pembangunan Moralitas Bangsa Aristoteles menyebutkan pengertian karakter yang baik adalah kehidupan berprilaku baik dan penuh kebajikan, berprilaku baik terhadap pihak lain, Tuhan Yang Maha Esa, manusia, alam semesta dan terhadap diri sendiri. Jonathan Webber dalam Journal of Philosophy menjelaskan bahwa karakter adalah akumulasi dari berbagai ciri yang muncul dalam cara berfikir, merasa dan bertindak. Sikap pemberani atau pengecut seseorang dalam menghadapi bahaya, sikap ketakutan dalam menghadapi orang banyak, merupakan contoh-contoh sederhana tentang karakter seseorang. Demikian rumusan yang dikemukakan oleh Victor Battistch dari Universitas Missouri St. Louis, dalam salah satu tulisannya berjudul Character Education, Prevention and Positive Youth Development, menegaskan bahwa karakter adalah konstelasi yang sangat luas antara sikap, tindakan, motivasi dan keterampilan. Karakter mencakup sikap, tindakan, cara berfikir dan respon terhadap ketidakadilan, interpersonal dan emosional, serta komitmen untuk melakukan sesuatu bagi masyarakat, bangsa dan negaranya. Sebagaimana Webber, Battistich juga melihat, karakter selalu dihadapkan pada dilema antara baik buruk, dilakukan atau tidak dilakukan oleh seseorang. Melakukan yang baik berarti berkarakter baik dan ideal, sebaliknya melakukan yang buruk berarti berkarakter buruk. Sejalan dengan keduanya, Katherine M.H, Blackford dan Arthur Newcomb, dalam tulisannya tentang Analyzing Character menekankan tentang karakter seseorang yang senantiasa berlawanan secara diametral antara baik dan buruk. Akan tetapi, Katherine menegaskan bahwa orang-orang yang berkarakter yang bisa diharapkan akan bisa maju dan akan mampu memabawa kemajuan adalah mereka yang memiliki ciri-ciri pokok, yakni, kejujuran, bisa dipercaya, setia, bijaksana, penuh kehati-hatian, antusias, berani, tabah, penuh integritas dan bisa diandalkan. Karakter terdiri dari tiga unjuk perilaku yang saling berkaitan yaitu : (1). Tahu arti kebaikan, (2). Mau berbuat baik, dan (3) nyata berprilaku baik. Ketiga substansi dan proses psikologis tersebut bermuara pada kehidupan moral dan kematangan moral individu. Dengan kata lain, karakter dapat dimaknai sebagai kualitas pribadi yang baik. Thomas Lickona menyatakan bahwa karakter yang baik meliputi knowing the good, desiring the good, and doing the good habits of mind, habits of heart, and habits of action. (mengetahui yang baik, menginginkan yang baik, dan melakukan yang baik – kebiasaan pikiran, kebiasaan hati, dan kebiasaan tindakan). Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif. Menurut dokumen Desain Induk Pendidikan Karakter terbitan Kementrian Pendidikan Nasional, pendidikan karakter didefinisikan sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk mengambil keputusan yang baik, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. Kemendikbud telah mengintrodusir 18 macam inti karakter dalam desain induk yang akan dikembangkan pada semua kegaiatan pendidikan dan pembelajaran serta penciptaan suasana yang kondusif di sekolah, yaitu: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komuniktif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung-jawab. Secara rinci penulis jelaskan dalam kolom berikut : No Nilai / Inti Karakter Deskripsi 1 Religius Sikap dan Perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. 2 Jujur Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan dan pekerjaan. 3 Toleran Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya. 4 Disiplin Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. 5 Kerja Keras Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya. 6 Kreatif Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang dimiliki. 7 Mandiri Sikap dan Perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas 8 Demokratis Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain. 9 Rasa Ingin tahu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat dan didengar. 10 Semangat Kebangsaan Cara Berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan dari kelompoknya. 11 Cinta Tanah Air Cara berfikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi dan politik bangsa. 12 Menghargai Prestasi Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain. 13 Bersahabat/komunikatif Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul dan bekerja sama dengan orang lain. 14 Cinta Damai Sikap, perkataan dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya 15 Gemar Membaca Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya 16 Peduli Lingkungan Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk meperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi. 17 Peduli Sosial Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan 18 Tanggung Jawab Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa. D. Matematika Akhlak sebagai Pendekatan Alternatif dalam Pembentukan Karakter Siswa Matematika merupakan subjek yang sangat penting dalam sistem pendidikan diseluruh dunia. Bahkan ada yang berpendapat bahwa “Negara yang mengabaikan pendidikan matematika sebagai perioritas utama akan tertinggal dari kemajuan segala bidang terutama sains dan tegnologi, dibanding dengan negara lainnya yang memberikan tempat bagi matematika sebagai subjek yang sangat penting.” Hal ini dikarenakan matematika sejak peradaban manusia bermula, memainkan peranan yang sangat vital dalam kehidupan sehari-hari. Para ahli pendidikan dinegara kita telah merumuskan bahwa matematika berfungsi : a. Sebagai saran untuk mengembangkan kemampuan bernalar melalui kegiatan pendidikan, eksplorasi, dan eksperimen. b. Sebagi alat pemecahan masalah melalui pola pikir dan model matematika, c. Sebagi alat komunikasi melalui simbol, tabel, grafik, dan diagram dalam menjelaskan gagasan. Tujuan matematika dirumuskan untuk melatih dan menumbuhkan cara berfikir secara sistematis, logis, analitis, kritis, kreatif dan konsisten, serta untuk mengembangkan sikap gigih dan percaya diri sesuai dalam menyelesaikan masalah serta kemampuan bekerja sama . Dari rumusan fungsi dan tujuan pembelajaran matematika yang dikemukakan para ahli pendidikan tersebut diatas, menunjukkan bahwa matematika seakan hanya untuk pengembangan kognitif atau daya pikir dan kurang memperhatikan pengembangan afektif, sikap atau prilaku terpuji (akhlak). Padahal jika kita memperhatikan dengan seksama, sesungguhnya dalam pembelajaran matematika erat hubungannya dengan sikap atau akhlak, diantaranya: a. Membentuk Karakter Teliti, Cermat dan Hemat Teliti atau cermat adalah sikap hati-hati dalam melakukan atau mengerjakan suatu hal. Matematika disebut sebagai ilmu hitung karena pada hakikatnya matematika berkaitan dengan masalah hitung-menghitung. Dalam pengerjaan oprasi hitung maka seseorang dituntut untuk bersikap teliti, cermat dan tepat. Teliti dan cermat sangat dibutuhkan dalam mengerjaan masalah matematika, karena jika ada satu langkah saja yang salah maka hasilnya akan salah. Oleh karena itu, langkah demi langkah dalam pengerjaan matematika harus diteliti dan dicermati. Setelah sudah diperoleh hasilnya pun perlu dicek kembali apakah sudah menjawab permasalahan atau tidak. Pada intinya matematika mengajari seseorang untuk jeli dan berhati-hati dalam melangkah. Sebagai contoh, perhatikan pengerjaan soal berikut: Jadi jawaban “a” yang benar. Mari kita perhatikan ketiga langkah dalam menjawab soal tersebut, hanya berbeda dalam peletakan tempat saja hasilnya akan berbeda meskipun angkanya tetap sama. Inilah yang dimaksud dengan teliti dan cermat, jika kita tidak teliti dalam peletakan angkanya maka hasilnya akan salah. Matematika juga melatih sikap hemat. Hemat (al-iqtishad) adalah penggunaan segala sesuatu yang tersedia baik berupa harta benda, waktu dan tenaga menurut ukuran keperluan, tidak kurang dan tidak berlebihan. Dalam hal ini dapat kita lihat pada penggunaan simbol sebagai alat berkomunikasi dalam matematika. Untuk menyatakan “unsur X merupakan anggota himpunan A” digunakan simbol “X€A” dan untuk menyatakan “f adalah fungsi dari himpunan A ke himpunan B” digunakan simbol “f : A → B”. hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Hodojo (1979:97) bahwa simbol bermanfaat untuk penghematan intelektual, karena simbol dapat mengkomunikasikan ide secara efektif dan efisien. Dari pernyataan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa penggunaan simbol dalam matematika secara tidak langsung memberikan pelajaran kepada kita tentang pentingnya menyederhanakan pengungkapan bahkan menyederhanakan permasalahan. Selain itu, matematika pada umumnya berkaitan dengan usaha mencari penyelesaian atau solusi suatu permasalahan Matematika. Tetapi sebenarnya bukan solusi itu yang menjadi fokus melainkan bagaimana metode mencari solusi itulah yang diutamakan. Metode tercepat dan tertepat adalah metode yang diutamakan, tercepat disini bermakna terhemat dalam langkah-langkahnya, yakni efektif dan efisien. b. Membentuk Karakter Jujur, Tegas dan Tanggung Jawab Dalam pembelajaran matematika, tanpa kita rasakan sebenarnya kita telah berlatih tentang kejujuran diri sendiri. Misalnya saja pada oprasi bilangan bulat positif dan negatif, tanpa kita sadari ternyata dalam oprasi bilangan tersebut mengandung pesan kejujuran. Perhatikan salahsatu rumus oprasi bilangan bulat positif-negatif berikut: + x - = - - x + = - + x + = + - x - = + Dari rumus tersebut dapat kita jadikan pegangan untuk senantisa berbuat dan berkata jujur, karena rumus tersebut mengandung makna: 1. ( + x - = -) artinya sesuatu yang benar jika kita nyatakan salah maka itu adalah salah 2. (- x + = -) artinya sesuatu yang salah jika kita nyatakan itu benar maka itu adalah salah 3. ( + x + = +) artinya sesuatu yang benar jika kita nyatakan itu benar maka itu adalah kebenaran. 4. ( - x - = + ) artinya sesuatu yang salah kita nyatakan salah maka itu adalah kebenaran. Inilah yang dimaksud dengan pesan kejujuran dalam oprasi bilangan bulat positif-negatif. Rumus tersebut dapat kita jadikan pegangan atau dasar dalam menjalani hidup sehari-hari agar kita tidak sampai terperosok dalam kejahatan yang nantinya akan memasukkan kita kedalam neraka jahannam. Karena dengan kita jujur sebagaimana yang penulis jelaskan diatas dapat menjadi pengantar kita masuk ke surga, yang mana didalamnya kita akan senantiasa dalam keadaan yang penuh dengan kenikmatan dan kebahagiaan. Abdusy-syakur dalam bukunya ketika kyai mengajar matematika, memberikan contoh lain tentang sifat jujur yang terkadang dalam pembelajaran matematika yaitu : misalnya seorang guru meminta seorang siswa menghitung hasil perkalian bilangan bulat 3 x 4 kalau tidak bisa menghitung, maka siswa tersebut harus jujur untuk mengatakan tidak bisa, jika tidak bisa tetapimengatakan bisa, maka saat disuruh mengerjakan akan ketahuan bahwa dia tidak bisa. Ketahuan kalau dia tidak jujur dan akan malu pada siswa yang lain. Jadi pesannya adalah lebih baik jujur walaupun itu pahit. Selain mengajarkan sifat jujur, menurut penulis, kasus diatas juga mengajarkan sifat tegas pada siswa. Pada kasus diatas, siswa dituntut untuk tidak bertele-tele dalam memberikan jawaban sehingga tidak membingungkan yang bertanya, karena seringkali jawaban yang bertele-tele membingungkan untuk dimengerti dari pada jawaban yang tegas. Contohnya saja, jika ada seorang yang bertanya : berapa saudaramu ? Jawaban tegas : 5! 3 saudara kandung dan dua saudara tiri. Jawaban yang bertele-tele : ”sebenarnya aku Cuma memiliki tiga saudara tapi karena dulu ayahku pernah menikah lagi, dan dari istri keduanya itu memiliki satu anak, dan sebelum menikah sama ayahku istri keduanya itu telah memiliki satu anak dengan suaminya yang terdahulu, jadi.......bla,bla,bla.. Contoh lain selain diatas adalah pada hasil perkalian bilangan bulat 3 x 4 pasti 12. pada persoalan tersebut kita tegas mengatakan bahwa 3 x 4 = 12 adalah benar, kalau bukan 12, kita tegas mengatakan itu salah. Karena dalam ilmu matematika hanya ada dua pilihan yaitu salah dan benar, tidak mungkin benar sekaligus salah, separuh benar separuh salah. Jadi matematika mengajarkan sikap tegas, tegas mengatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah, tidak abu-abu. Selain sifat tersebut diatas, matematika juga mengajarkan sikap hidup benar dan bertanggung jawab. Tanggungjawab secara sempit adalah suatu usaha seseorang yang diamanahkan, harus dilakukan. Dalam Islam istilah tanggungjawab merupakan amanah. Secara luas tanggungjawab diartikan sebagai usaha manusia untuk melakukan amanah secara cermat, teliti, memikirkan akibat baik dan buruknya, untung dan rugi serta segala hal yang berhubungan dengan perbuatan tersebut secara transparan menyebabkan orang percaya dan yakin, sehingga perbuatan tersebut mendapat imbalan baik maupun pujian dari orang lain. Dalam hal ini adalah matematika yang berkenaan dengan masalah pembuktian. Langkah-langkah dalam pembuktian matematika harus berdasarkan pada hal-hal yang sudah diakui kebenarannya. Langkah demi langkah harus berdasarkan alasan yang jelas, kaut dan benar, seperti contoh: jika seorang siswa dapat menjawab; -2 + (-5) -2 + 7 – (-3) – (+4) + 9 – 10 + (-2) + 3. Hasilnya adalah -3, maka ia harus bisa menjelaskan alasan maupun langkah-langkah yang digunakan. Jika ia bisa menjelaskan , maka ia telah bertanggung jawab atas jawabannya, tetapi bila sebaliknya itu berarti tidak benar dan tidak bertanggung jawab. Berikut merupakan langkah-langkah penyelesaiannya: 1. Menyederhanakan bilangan positif negatif tersebut -2 -5 -2 +7 +3 -4 +9 -10 -2 +3 2. Kumpulkan sesuai tandanya dan jumlahkan -2 -5 -2 -4 -10 -2 +7 +3 +9 +3 3. Diperoleh +22 – 25 = -3 Dengan cara sepertia itulah sebenarnya matematika mengajarkan sikap hidup benar dan bertanggung jawab. Implikasi atau aplikasi dalam kehidupan, kita diajarkan bahwa setiap perkataan, kehendak dan perbuatan harus berdasar pada sumber yang benar, semua perbuatan ada dasarnya, dalam hal ini adalah al-quran dan al-hadits. Mengapa kita mengerjakan sholat? Dasarnya karena diperintahkan dalam al-quran, mengapa kita tidak boleh sombong? Dasarnya karena hal itu dilarang dalam al-Quran. c. Membentuk Karakter pantang menyerah dan percaya diri Sikap pantang menyerah terkadang memang sangat kita butuhkan ketika kita dalam keadaan yang sulit. Mencari solusi untuk menyelesaikan soal matematika, akan melatih kita untuk bersikap pantang menyerah dan percaya diri. Langkah demi langkah yang kita coba dan terus mencoba sampai akhirnya kita menemukan jawabannya itulah sikap pantang menyerah dan percaya diri. Saat gagal atau tidak bisa menjawab kita dituntut untuk mencari cara lain agar solusi dan jawaban itu dapat kita temukan, kegagalan dengan satu cara tidak boleh mengurangi semangat kita untuk terus berusaha, saat keberhasilan tercapai maka rasa puas dan bangga akan tumbuh (tapi ingat jangan berlebihan ya......). Dari sini, sungguh matematika telah mengajarkan kepada kita tantang pentingnya sikap pantang menyerah dan percaya diri, inilah mutiara yang sangat berguna dalam kehidupan. Dalam al-Quran sikap pantang menyerah, pantang berputus asa dan percaya diri sangat dianjurkan dan merupakan perintah dalam alquran, Firman Allah dalam QS. Al-ankabut ayat 23 menjelaskan: Artinya: “Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan dia, mereka putus asa dari rahmatku, dan mereka itu mendapat adzab yang pedih.” Dalam QS yusuf ayat 87 : Artinya: “Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum kafir”. Dalam QS Al-Hijr ayat 56 : Artinya: “Ibrahim berkata: tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat.” E. Kesimpulan Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa dari ke 18 macam inti karakter dalam desain induk yang akan dikembangkan pada semua kegiatan pendidikan dan pembelajaran, matematika akhlak berperan dalam pembentukan karakter pada poin 2 (Jujur), 4 (Displin), 5 (Kerja Keras) dan 18 (Tanggung Jawab). Pada poin 2 menjelaskan bahwa Jujur merupakan Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan dan pekerjaan. Pada poin 4 menjelaskan bahwa disiplin atau ketegasan merupakan Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. Pada poin 5 dijelaskan bahwa kerja keras atau pantang menyerah merupakan Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Pada 18 dijelaskan bahwa Tanggung Jawab merupakan Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa. Integrasi penanaman karakter pada setiap mata pelajaran merupakan sebuah keniscayaan, tanpa harus berdiri sebagai satu mata pelajaran sendiri, pendidikan karakter seharusnya sudah Automaticaly Integrated dalam setiap mata pelajaran, setiap guru seharusnya dapat mengkaitkan antara substansi pelajaran yang diajarkan dengan karakter yang akan dibentuk, dalam hal ini penulis mengungkap beberapa susbstansi pada mata pelajaran matematika yang dapat digunakan untuk membentuk karater siswa. Demikian juga dengan mata pelajaran yang lain, guru diharapkan dapat sekreatif mungkin mengkaitkan dan mengintegrasikan substansi pelajaran yang diajarkan dengan karakter siswa yang akan dibentuk. Wallahu A’lam bi Ashowab. DAFTAR PUSTAKA Abdussyakir, Ketika Kyai Mengajar Matematika, Malang : UIN-Malang Press, 2004. Al-Farabi, Fusul, also al-Farabi, al-Tanbih, dalam Mohd Nasir Omar. Christian and Muslim Ethic. Al-Ghazali, Ihya ulumuddin III. Battistich, Victor, Character Education, Prevention and Positive Youth Development, University of Missouri, St. Louis, USA, 2002. Blackfoard, Katherine M.H., and Arthur Newcomb, Analyzing Character, Gutenberg, eBook, 2004. Bumolo, Husain dan Djoko Mursinto, Matematika untuk Ekonomi dan Aplikasinya, Malang : Bayumedia Publishing, 2005. Handoyo, Bekti Hermawan, Matematika Akhlak, Jakarta : Kawan Pustaka, 2007. http://news.detik.com/read/2013/03/14/111226/2193658/10/mendikbud-pelajaran-matematika-bisa-membentuk-sikap-dan-akhlak-anak Lickona, Thomas, Education for Character, 2001. Mas’ud, Moch, Quantum Bilangan-bilangan al-Qur’an, Yogyakarta : DIVA Press, 2008. Masykur, Moch dan Halim Fatoni, Mathematical Intelligence; cara cerdas Melatik Otak dan Menanggulangi Kesulitan Belajar, Jogjakarta : Ar-Ruzz Media, 2007. Manzur, Ibn, Lisan al-Arab, 6 vols. Cairo: Dar al-Ma’arif, II. Pusat Kurikulum, Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, Badan Litbang, Kementrian Pendidikan Nasional, 2010. Saliba, Jamil, al-Mu’jam al-Falsafi , 2 vols. Beirut: Dar al¬Kitab al-Lubnani. I. 1971. Theresia, Tirta Saputro, Pengantar Dasar Matematika Logika dan Teori Himpunan, Jakarta : Erlangga, 1992. Webber, Jonathan, Sarte’s Theory of Character, Europe Journal of Philosophy, Blackwell Publishing House, UK, 2006. Yahya, Tahdhib; dalam Mohd Nasir Omar

Monday, January 21, 2013

Internalisasi Konsep Ta'dib Al-Attas dalam Membangun Karakter

“The purpose for seeking knowledge in Islam is to inculcate goodness or justice in man as man and individual self. The aim of education in Islam is therefore to produce a goodman… the fundamental element inherent in the Islamic concept of education is the inculcation of adab…” (S.M.N. Al-Attas, 1979:88-89) “Orang baik” atau good man, tentunya adalah manusia yang berkarakter dan beradab. Al-Attas dalam konsep Ta’dibnya menjelaskan bahwa ada 3 element mendasar yang terdapat dalam Pendidikan Islam yaitu Process, Content and Recipient. Proses adalah Metode, content adalah adab, dan recipent adalah peserta didik. Pendidikan sejatinya merupakan penanaman “adab” kepada peserta didik dengan metode “suri tauladan” yang baik. Jika sang “suri tauladan” belum memiliki etika dan moral yang baik, maka jangan harap program pendidikan karakter yang dicanangkan pemerintah akan berhasil, tapi justru akan menjadi sebatas pengetahuan diatas kertas yang hanya dihafal tanpa ada implementasi. Karena itulah, pendidikan karakter memerlukan “suri tauladan” dari sang “pembentuk karakter”, Jika di pondok pesantren dikenal istilah sebaik-baik belajar adalah dengan mengajar maka tidaklah berlebihan jika dikatakan, sebaik-baik pendidikan adalah dengan suri tauladan. Kata Kunci : Karakter, Adab, Ta’dib dan Suri Tauladan A. Pendahuluan Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pendidikan Nasional sudah mencanangkan penerapan pendidikan karakter untuk semua tingkat pendidikan, dari SD hingga Perguruan Tinggi. Menurut Mendiknas, Muhammad Nuh, pembentukan karakter perlu dilakukan sejak usia dini. Jika karakter sudah terbentuk sejak usia dini, kata Mendiknas, maka tidak akan mudah untuk mengubah karakter seseorang. Ia juga berharap, pendidikan karakter dapat membangun kepribadian bangsa. Mendiknas mengungkapkan hal ini saat berbicara pada pertemuan Pimpinan Pascasarjana LPTK Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) se-Indonesia di Auditorium Universitas Negeri Medan (Unimed), Sabtu (15/4/2010). Munculnya gagasan program pendidikan karakter di Indonesia, bisa dimaklumi. Sebab, selama ini dirasakan, proses pendidikan dirasakan belum berhasil membangun manusia Indonesia yang berkarakter. Bahkan, banyak yang menyebut, pendidikan telah gagal, karena banyak lulusan sekolah atau sarjana yang piawai dalam menjawab soal ujian, berotak cerdas, tetapi mental dan moralnya lemah. Banyak pakar bidang moral dan agama yang sehari-hari mengajar tentang kebaikan, tetapi perilakunya tidak sejalan dengan ilmu yang diajarkannya. Sejak kecil, anak-anak diajarkan menghafal tentang bagusnya sikap jujur, berani, kerja keras, kebersihan, dan jahatnya kecurangan. Tapi, nilai-nilai kebaikan itu diajarkan dan diujikan sebatas pengetahuan di atas kertas dan dihafal sebagai bahan yang wajib dipelajari, karena diduga akan keluar dalam kertas soal ujian. (Adian Husaini, 2010 : 1) B. Metodologi 1. Jenis dan Metode Penelitian Penelitian ini adalah penelitian pustaka (library research) dan menggunakan pendekatan deskriptif-analisis. Karenanya penelitian ini menekankan pada ketajaman pandangan serta telaah pemikiran. Dalam penelitian ini penulis tidak hanya berusaha menemukan keterkaitan dengan berbagai fakta (fact finding research), namun juga berusaha untuk menemukan gagasan-gagasan besar (great ideas) di balik fakta-fakta yang diperoleh dari tokoh tersebut (Muzayyin Arifin, 2003 : 5). 2. Metode Analisis Data Untuk menganalisis dan mengolah data, digunakan metode analisis isi (content analysis), yakni analisis terhadap makna dan kandungan yang ada pada teks. Dengan demikian setelah data di deskripsikan apa adanya, maka yang berperan selanjutnya adalah analisis tersebut, sehingga corak sajian datanya adalah deskriptif-analitis. (Anton Beker, 1990 : 75) Kedua, koherensi internal, yaitu usaha untuk memahami secara benar guna memperoleh hakikat dengan menunjukkan semua unsur struktural yang dilihat dalam satu struktur yang konsisten, sehingga merupakan internal struktur atau internal relational. (Sudarto, 1997 : 42). Ketiga, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-analitik. Metode deskripsi merupakan langkah yang dilakukan dalam rangka representasi obyek tentang realitas yang terdapat di dalam masalah yang diteliti. Yakni, metode yang digunakan secara sistematis untuk mendeskripsikan segala hal yang berkaitan dengan pokok permasalahan. (Soejono & Abdurrahman, 1999 : 13) C. Temuan Ada 2 faktor yang sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak, diantaranya : 1. “Lingkungan”. Diantara lingkungan yang paling berpengaruh adalah rumah, sekolah dan masyarakat. 2. “Figur”. Orang tua sebagai figur di rumah, guru sebagai figur di sekolah, dan tokoh masyarakat sebagai figur di masyarakat. Adapun usaha yang perlu dilakukan oleh pendidikan untuk membentuk karakter anak didik adalah : 1. Sebelum memberikan nasehat, terlebih dahulu seorang figur, (orang tua, guru dan tokoh masyarakat) memberikan contoh yang baik (suri tauladan) kepada anak didik, mengenai hal yang ingin ditanamkan. 2. Seorang figur harus mampu menciptakan suasana yang kondusif sesuai dengan karakter yang ingin dibentuk D. Pembahasan Dalam bukunya Islam, Secularism and the Philosophy of the Future, Syed Muhammad Naquib al-Attas (selanjutnya disingkat al-Attas) menjelaskan bahwa dalam pendidikan Islam melekat tiga element mendasar yaitu: Process, Content and Recipient (Proses-Isi-Penerima). Yang dimaksud dengan proses adalah proses penanaman (process of instilling) yang kemudian dirujuk pada metode dan sistem pembelajaran. Jadi jika ada pertanyaan “apakah itu pendidikan?” maka jawabannya adalah “pendidikan adalah sebuah proses penanaman sesuatu kepada manusia” (Education is a process of instilling something into human beings). (S.M.N al-Attas, 1985 : 173) Dari definisi pendidikan tersebut, selanjutnya menimbulkan sebuah pertanyaan: “apa yang akan ditanam?” (What is Instilled?). Dalam pendidikan Islam, yang di tanam disini adalah adab, dengan demikian yang dimaksud dengan content atau isi diatas adalah adab. Setelah pertanyaan “apa yang akan ditanam” sudah terjawab, ada satu pertanyaan lagi yang perlu dijawab yaitu: “kepada siapa adab itu ditanamkan?”, dalam pengertian ini adalah penerima atau recipient dari pendidikan tersebut, apakah balita, anak-anak, remaja, orang dewasa atau orang lanjut usia. Dari sinilah kemudian muncul beberapa disiplin ilmu seperti: psikologi anak, psikologi remaja, pedagogy, andragogy dan lain-lain. Karena metode penyampaian isi atau content disesuaikan dengan penerima isi atau content tersebut. Maka mendidik anak-anak tidak sama dengan mendidik remaja, mendidik remaja tidak sama dengan mendidik orang dewasa dan seterusnya. (S.M.N al-Attas, 1985 : 174) Akan tetapi hal yang terpenting dari ketiga element mendasar yang terdapat dalam pendidikan Islam tersebut adalah bagaimana “metode” penanaman content atau isi tersebut? Artinya bagaimana metode pembentukan karakter anak didik? Berikut ini adalah sebuah kisah yang dapat dijadikan contoh metode penanaman adab dan pembentukan karakter peserta didik : “Pada suatu malam tatkala Khalifah Umar bin Abdul Aziz (seorang Khalifah Bani Umaiyah) sedang tekun bekerja di bilik istananya, tiba-tiba seorang putranya masuk untuk membincangkan sesuatu hal yang berhubung dengan urusan keluarga. Tiba-tiba baginda memadamkan lampu yang terletak di mejanya yang digunakan untuk menerangi bilik kerjanya itu. Putranya merasa hairan melihat sikap ayahnya itu seraya bertanya: "Kenapa ayah padamkan lampu itu?" Maka jawab ayahnya: "Benar kata kau wahai anakku, tetapi kau harus ingat lampu yang sedang ayah gunakan untuk bekerja ini kepunyaan kerajaan. Minyak yang digunakan itu dibeli dengan menggunakan wang kerajaan, sedang perkara yang hendak anakkanda perbincangkan dengan ayahanda adalah perkara keluarga." Lantas baginda meminta pembantunya membawa lampu dari bilik dalam. Kemudian baginda pun berkata kepada putranya: "Sekarang lampu yang baru kita nyalakan ini adalah kepunyaan keluarga kita, minyak pun kita beli dengan wang kita sendiri. Sila kemukakan apa masalah yang anakanda perbincangkan dengan ayahanda." Demikianlah besarnya sifat amanah dari seorang pemimpin berkalibar selaku seorang raja yang berjiwa besar”. Dalam cerita tersebut, Khalifah Umar bin Abdul Aziz ingin membentuk karakter anaknya dengan karakter yang jujur dan amanah, yaitu agar tidak menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi. Yang dapat diambil pelajaran dari kisah tersebut adalah metode penyampaian yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz, yaitu tidak hanya melalui kata-kata ataupun perintah, akan tetapi dimulai dari “suri tauladan” atau contoh dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz sendiri, yang pada akhirnya diharapkan dapat ditiru oleh anaknya. Dengan demikian, pembentukan karakter sangatlah dipengaruhi oleh figur dan tokoh sang pembentuk karakter, terbentuknya karakter di keluarga dipengaruhi oleh orang tua sebagai figur, terbentuknya karakter di sekolah dipengaruhi oleh guru sebagai figur dan terbentuknya karakter di masyarakat oleh tokoh masyarakat sebagai figur. Yang menjadi permasalahan sekarang adalah Indonesia saat ini sedang krisis “figur”. Figur dan lingkungan menjadi faktor utama terbentuknya karakter peserta didik, al-Attas menjelaskan bahwa lingkunganlah yang membentuk prilaku dan karakter peserta didik, al-Attas mengilustrasikan istilah adab layaknya sebuah undangan untuk menghadiri jamuan spiritual inviting to a banquet. Sebagaimana yang dijelaskan al-Attas : Kitab suci al-Qur’an adalah undangan Tuhan kepada manusia untuk menghadiri jamuan kerohanian, dan cara memperoleh ilmu pengetahuan yang sebenarnya tentang al-Qur’an itu adalah dengan menikmati makanan-makanan yang lezat yang tersedia dalam jamuan kerohanian tersebut. Artinya, karena kenikmatan makanan yang lezat dalam jamuan istimewa itu ditambah dengan kehadiran kawan yang agung dan pemurah, dan karena makanan tersebut dinikmati menurut cara-cara, sikap, dan etiket yang suci, maka hendaknya ilmu pengetahuan yang dimuliakan dan sekaligus dinikmati itu didekati dengan perilaku yang sesuai dengan sifatnya yang mulia. (S.M.N al-Attas, 1993 : 149) Ilustrasi tersebut menggambarkan bahwa, seseorang ketika menghadiri jamuan makan di sebuah undangan, dengan dihadiri orang-orang yang terhormat, maka secara otomatis mulai dari gerak-gerik dan cara makan akan berbeda dengan ketika dirumah. Berhubung dalam jamuan tersebut banyak orang yang agung dan terhormat maka para undangan akan menikmati jamuan tersebut dengan cara-cara, sikap, dan etiket yang baik, berbeda halnya dengan ketika makan dirumah sendiri, seseorang akan makan dengan lahapnya, kaki diangkat diatas kursi, tanpa menghiraukan sikap dan etiket yang baik. Dengan demikian orang tua harus dapat menciptkan suasana religius di dalam rumah, misalnya membiasakan diri mengaji setelah maghrib, shalat berjama’ah ketika mendengar adzan, dan berbicara sopan kepada anak. Maka sang anak akan merasa malu jika setelah magrib tidak mengaji padahal orang tuanya mengaji. Anak akan merasa malu jika ketika adzan televisi masih menyala, padahal orang tuanya sudah siap mau ke masjid. Anak akan merasa malu berbicara kasar pada orang tua, karena orang tua selalu berbicara sopan dan lembut kepada anak. Demikian halnya di lingkungan kampus, jika seorang dosen ingin membentuk karakter mahasiswa agar suka menulis, maka paling tidak dosen tersebut harus sudah pernah menulis buku, menulis di jurnal dan koran, jika tidak, maka jangan pernah berharap mahasiswa mau menulis, karena sang “figur” yang seharusnya dijadikan panutan belum pernah menulis, seperti ungkapan dalam al-Qu’ran : Kaburo Maktan ‘Inddallahi Antakuulu Mala Ta’maluun, Artinya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (Q.S. Ash Shaff : 3). Maka jika seorang menteri ingin mencanangkan program pendidikan karakter, perlu dipertanyakan, apakah bapak menteri sudah memiliki etika, moral dan karakter yang baik? Wallahu a’lam bi ashowab. E. Kesimpulan Dari semua analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa: Al-Attas menganggap “adab” adalah hal yang melekat dalam konsep pendidikan Islam, menciptakan “good man” merupakan tujuan utama pendidikan Islam, “adab” oleh al-Attas di ilustrasikan seperti inviting to a banquet, yang menggambarkan bahwa sikap dan etika seseorang dipengaruhi oleh lingkungan dimana seseorang tersebut hidup. Maka jika ingin merubah sikap dan etika anak didik, harus dimulai dengan merubah lingkungan sekitar menjadi baik, dan perubahan tersebut di awali oleh figur-figur yang berperan di masing-masing lingkungan. Orang tua sebagai figur di rumah, guru sebagai figur di sekolah, dan tokoh masyarakat sebagai figur di masyarakat. DAFTAR PUSTAKA al-Attas, Syed Muhammad Naquib, (ed). Aims And Objectives of Islamic Education (Jeddah: King Abdul Aziz University. 1979. _________, Islam, Secularism and the Philosophy of the Future. London-New York: Mansell Publishing Limited. 1985. _________, Islam and Secularism, Kuala Lumpur, Art Printing Works Sdn. Bhd. 1993. _________, Prolegomena to The Methaphysics of Islam. Kuala Lumpur. International Institute of Islamic Thought and Islamic Civilization (ISTAC). 1995. _________, The Concept of Education in Islam: A Framework for an Islamic Philosophy of Education. An address to the Second World Confrence on Muslim Educatiion, Islamabad Pakistan. 1980. Arifin, Muzayyin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2003. Beker, Anton, Metodologi Penelitian Filsafat, Jogjakarta: Kanisius, 1990. Conference Book, First World Conference on Muslim Education, Jeddah-Mecca King Abdul Aziz University, 1393. Husaini, Adian, Pendidikan Karakter: Penting tapi Tidak Cukup, Jakarta: INSIST, 2010. Sudarto, Metodologi Penelitian Filsafat, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997. Soejono dan Abdurrahman, Bentuk Penelitian, suatu Pemikiran dan Penerapan Jakarta: Rineka Cipta, 1999.

Buku Terbaru: Studi Islam Perspektif Insider/Outsider


Pada abad yang lalu studi tentang agama-agama manusia menjadi dasar pengembangan akademik, seperti di Amerika, Eropa dan Inggris. Di Amerika Utara misalnya, sekolah-sekolah menyediakan jurusan studi agama, sehingga pada paroh kedua dari abad ke-19, studi scientific agama memperoleh kebebasan dari fakultas-fakultas pada universitas-universitas di Eropa dan Inggris, pada saat itulah masa dimana studi agama, sejarah, antropologi, ketimuran, dan injil menjadi disiplin ilmu yang mandiri Diantara agama-agama yang menarik dikaji oleh masyarakat internasional saat ini adalah agama Islam. Buku ini merupakan representasi dari ketertarikan dunia internasional terhadap Studi Islam, sehingga penulis menyajikan dalam buku ini dua perspektif (insider/outsider) dalam Studi Islam, dengan harapan dapat mewakili opini masyarakat dunia baik dari insider maupun outsider. Buku ini berusaha memberikan alternatif metodologis bagi penelitian agama, terutama terkait dengan pemecahan masalah-masalah keagamaan di Masyarakat Muslim. Adapun permasalahan dalam studi Islam oleh Kim Knott dapat dipetakan menjadi beberapa permasalahan ; Pertama, betapa sulitnya membuat garis demarkasi yang jelas antara wilayah agama dan yang tidak. Kedua, adanya persoalan yang sangat rumit ketika ada yang memahami agama, antara ia sebagai tradisi (tradition) dan sebagai keimanan (faith). Ketiga, terjadinya stagnasi metodologis dan pendekatan di kalangan akademisi maupun praktisi ketika mempelajari studi agama. Di satu pihak, mereka dituntut agar dapat memahami agama dalam orientasi akademik, dan di pihak lain, mereka harus menjaga nilai transendensi agama. Keempat, karena beberapa universitas (baik di Barat maupun di Timur) masih menyimpan sejumlah masalah seputar studi Islam dengan menggunakan pendekatan ilmiah. Buku ini menyugugkan pendekatan-pendekatan dan berbagai wacana yang dapat memperkaya khazanah keilmuan Islam, baik dari insider maupun outsider. Diantara tawaran-tawaran tersebut diberikan oleh : Charles Sanders S. Peirce, Richard. C Martin, Charles J. Adam, Kim Knott, Omid Safi, Abid Al-Jabiri, Ibrahim Abu Rabi’, Khaled Aboe El-Fadl, Abdullah Saeed, Fathi Osman, Fethullah Gulen, Jasser Auda, Mashood A. Baderin, Nasr Hamid Abu Zayd, Muhammad Arkoun. Mereka memahami agama-agama dalam orbit kultur yang sangat beragam. Sehingga, persoalan krusial dalam studi agama secara objektif adalah kuatnya keyakinan truth claim, yang tidak terpisahkan dari kajian dan objek penelitian. Perlunya netralitas dan keluar dari truth claim dalam penelitian agama sangat disarankan oleh Kristensen, van der Leeuw dan Ninian Smart, mereka menawarkan metode agnostisisme. Metode tersebut diidentifikasi oleh Smart - dan dilanjutkan oleh Barker, metode ini mendominasi studi agama pada era 1970-an dan 1980-an. Menurutnya, cara tersebut untuk mendekatkan adanya gap dikotomi antara insider-outsider, menjadi dua sisi yang integral dalam perspektif sehingga menjadi netral. Netralitas yang diinginkan, dalam arti tidak mudah terkooptasi untuk mendukung kepentingan tertentu yang bersifat empiris pragmatis. Senada dengan Smart, Cornelius Tiele memberikan polarisasi, meski masih rancu dan cenderung debatable dalam Elements of the Science of Religion (1897). Ia membedakan antara private religious subjectivity of individual (keberagamaan individu yang subjektif) dengan outward impartiality as a scholar of religion (peneliti kajian agama yang netral), sebagai instrumen mendasar untuk studi agama menuju pada hasil yang objektif. Meski dua tipologi itu memberi penegasan karakter, namun justifikasi dari keduanya yang masih memicu kontroversi, seakan ia telah menjustifikasi bahwa insider cenderung melihat persoalan keberagamaan secara subjektif, sedangkan peneliti outsider memandangnya secara objektif impartial. Konsepsi Barat tentang objektivitas dalam studi agama digambarkan oleh Wilfred C. Smith sebagai berikut; No statement about a religion is valid unless it can be acknowledged by that religion’s believers, Merujuk pada studi pribadinya, Smith juga menegaskan, Anything that I say about Islam as a living faith is valid, only as far as Muslims can say “amin” to it. Ungkapan yang simpatik dari outsider, meski tetap perlu untuk dikritisi. Sejatinya, kajian Islam dari para outsider memberi kontribusi gagasan-gagasan besar ilmiah yang memicu gerakan intelektual dalam peradaban Islam. Lahirnya daya kritis Islam terkadang lahir berkat kajian-kajian para outsider. Dengan cara berfikir kritis, intelektual Muslim mengetahui problem yang sedang dihadapi, sembari mengusulkan berbagai pemecahan yang harus segera dilakukan. Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan ribuan terimakasih kepada Prof. Dr. Syafiq A. Mughni, MA., yang meluangkan waktunya untuk memberi kata pengantar pada buku ini. Tidak lupa penulis ucapkan terimakasih khususnya kepada Prof. Dr. Amin Abdullah, MA., yang telah memberikan pencerahan akademik, memperkaya perspektif serta memberikan masukan-masukan berarti pada kami, karena sejatinya tulisan dalam buku ini adalah buah dari diskusi penulis dengan Prof. Amin dalam mata kuliah metodologi studi Islam di kelas. Namun perlu disadari bahwa, setiap tulisan dalam buku ini masih menyimpan banyak kelemahan, karena itu saran dan kritik yang konstruktif dari pembaca sangat dinantikan, untuk kemudian dapat disajikan bahan-bahan bagi penyempurnaan. Selamat Membaca!

 
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA...... TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA......TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA......TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA......TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA......TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA......TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA......